Senin, 15 Mei 2017

Pengelolaan Pengajaran PAI

Nama              : Khusnul Malinda
NIM                : 2015.01.059
Semester         : IV (Empat) PAI B
Tugas              : Pengelolaan Pengajaran PAI (UTS)

JAWABAN
1.  Menurut saya Hakikat Pengelolaan Pengajaran PAI harus berdasarkan pada upaya untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep-konsep pengajaran demi mencapai tujuan pengajaran sehingga menjadi efektif, efesien serta produktif yang diawali dengan penentuan strategi pengajaran, perencanaan pengajaran dan terakhir penilaian hasil belajar kemudian penilaian ini dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik.
2.      Mengapa sebagai guru harus mempertimbangkan dalam pemilihan dan penggunaan media pengajaran Karena media dalam proses pembelajaran diarahkan bagaimana agar informasi yang harus dikuasai siswa dapat mudah dicerna dan dapat mudah dipahami, baik yang disajikan secara langsung oleh guru misalnya melalui media presentasi dengan menggunakan OHP atau media lainnya seperti komputer dengan LCD-nya maupun yang disajikan secara tidak langsung misalnya dalam bentuk buku paket belajar, dalam bentuk modul, audio, video, CD dan lain sebagainya.[1]
Faktor-faktor yang diperhatikan dalam memilih media pengajaran yaitu :
a.       Media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran. Dengan demikian, penggunaan media harus dipandang dari sudut kebutuhan siswa, bukan dipandang dari sudut kepentingan guru.
b.      Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media tidak digunakan sebagai alat hiburan, atau tidak semata-mata dimanfaatkan untuk mempermudah guru menyampaikan materi, akan tetapi benar-benar untuk membantu siswa belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c.       Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran, setiap materi pelajaran memiliki kekhasan dan kekompleksan.
d.      Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kondisi siswa. Siswa yang memiliki kemampuan mendengar kurang baik, akan sulit memahami pelajran manakala digunakan media yang bersifat auditif. Demikian pula sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan penglihatan yang kurang, akan sulit menangkap bahan pembelajaran yang disajikan melalui media visual.
e.       Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.[2]
3.  Umpan balik atau feedback adalah suatu proses pertukaran informasi . proses feedback dapat membantu seseorang untuk mengetahui apakah prilakunya sesuai dengan yang maksud. Namun demikian, proses feedback harus fokus pada prilaku bukan maksud. Sebab yang mengetahui maksud hanya orang yang bersangkutan, sementara orang lain tidak. Unsur-unsur feedback yang efektif adalah kepedulian, kepercayaan, penerimaan, dan keterbukaan.memberikan feedback adalah satu keterampilan yang dapat dipelajari.[3]
Mengapa dalam PBM perlu adanya umpan balik? Karena untuk membantu siswa belajar secara berkelompok maupun individu mengenai kemampuannya sehingga dapat melatih suatu keterampilan. Dengan demikian, dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan, pemberian umpan balik sangat diperlukan terlebih jika penerapan konsep belajar tuntas yang menghendaki semua siswa dapat mencapai tujuan yang dirumuskan secara maksimal.[4]
Teknik-teknik yang dilakukan dalam umpan balik :
a.       Memancing apersepsi anak didik
Anak didik adalah orang yang memiliki kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya, latar belakang kehidupan sosial anak penting untuk diketahui oleh guru. Sebab dengan mengetahui darimana anak berasal, dapat membantu guru untuk memahami jiwa anak. Pengalaman apa yang dipunyai anak adalah hal yang sangat membantu untuk memancing perhatian anak. Anak biasanya senang membicarakan hal-hal yang menjadi kesenangannya.
b.      Memanfaatkan teknik alat bantu
Alat bantu dapat dimanfaatkan sebagai teknik yang jitu untuk meningkatkan perhatian anak didik terhadap bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Umpan balik pun terjadi seiring dengan proses belajar anak didik yang berkelanjutan.
c.       Menggunakan metode yang bervariasi
Proses belajar menjadi dewasa ini menuntut seorang guru memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan siswanya. Metode merupakan hal yang lebih penting dari materi yang diajarkan.[5]
4.    Mengapa kita harus memahami berbagai metode pembelajaran ? Karena banyaknya mata pelajaran maka tujuan untuk setiap mata pelajaranpun berbeda-beda pula. Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode untuk mencapai tujuan tersebut. Pemilihan metode yang salah akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Guru jangan sesuka hati memilih metode, ia harus berpedoman pada tujuan pembelajaran[6]
Cara yang harus dilakukan guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif dan efisien yaitu :
a.       Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar. Variasi metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa dan kelas menjadi hidup. Metode penyajian yang selalu sama akan membosankan siswa.
b.      Motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan perkembangan siswa selanjutnya melalui proses belajar. Bila motivasi guru tepat mengenai sasaran akan meningkatkan kegiatan belajar. Dengan tujuan yang jelas siswa akan belajar lebih tekun, lebih giat dan bersemangat.
c.       Dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak memberikan kebebasan pada siswa untuk dapat menyelidiki sendiri, mengamati sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri.[7]




[1] Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran, Cet. Ke-1, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), Hal. 27
[2] Ibid,. Hal. 75-77
[3] Bermawwy Munthe, Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: PT Pusaka Insan Madani, 2009), Hal. 157
[4] Zaenal Mustakin, Strategi dan Metode Pembelajaran. (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), Hal. 190
[5] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), Hal. 161-166
[6] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Cet. Ke-3, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), Hal. 223
[7] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang  Mempengaruhi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012), Hal. 92-94.

3 komentar: